Kamis, 02 Desember 2010

Menghadapi Balita Agresif

Diposting oleh elda utami di 01.33 0 komentar
Cara jitu menghadapi balita agresif adalah memberinya petunjuk, memperlihatkan cara dan panduan. Orang tua tak perlu mendisiplinkan anak dengan cara menghukum, atau terlalu banyak memberikan imbalan. Tentu saja, tidak mudah menghadapi dengan kesabaran tinggi pada balita yang sedang melemparkan mainan. Tetap sabar dan tenang menghadapinya. Cara Anda ini memperlihatkan ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah.

Anda perlu memperlakukan balita yang berulah bahkan yang tidak bisa mengendalikan perilaku kasar dan cenderung agresif tanpa amarah dengan cara:
  • Afeksi. Pelukan hangat, senyum dan lapang dada merupakan kebijaksaan orang tua yang paling dasar. Ini juga contoh terbaik bagi balita supaya bisa beralih dari balita yang tidak terkendali menjadi balita yang lembut hati dan berperilaku baik.
  • Perhatian. Tak jarang menjambak rambut ibu atau berteriak di telinga ayah adalah upaya si balita cari perhatian. Perhatian yang cukup dan komunikasi dua arah yang lancar mengobati hobi menjambak jadi hobi membelai ibu.
  • Bimbingan. Bermacam perilaku agresif balita didasari kekurangtahuan dan keterbatasan balita, maka balita sebenarnya tak selalu perlu diperingatkan dengan nada marah ketika memukul orang lain. Ajarkan cara tepat berperilaku. Apabila balita terlanjur memukul teman, anggaplah ini kesempatan emas bagi Anda untuk mengajarkannya minta maaf.
  • Kesabaran. Sabar ada batasnya. Ketika menghadapi balita, harus punya beragam trik agar tidak kelewat banyak melarang atau memarahi tapi tetap bersikap tegas. Meski proses ini perlu waktu, namun bila dilakukan konsisten akan dapat memperoleh hasil yang baik.
Berikut tips  untuk Anda: 
  • Bila: Balita berteriak sambil memukul untuk menolak mandi.
    Lakukan: Anak usia 1-3 tahun belum mengenal konsep waktu sehingga peralihan kegiatan belum bisa dipahaminya. Anda menghidar saja dari kemungkinan kena pukulannya. Kemudian beritahukan bahwa Anda hanya ingin membantunya mandi.
  • Bila: Balita berlarian sambil berteriak saat berkejaran dengan sepupunya. Tak jarang menjerit sambil melompat dan melempar diri ke bantal karena gembira yang meluap. Akhirnya menabrak sepupu hingga menangis. 
    Lakukan: Ajak anak duduk dan beri ia pelukan untuk meredakan tangisnya. Sambil menawarkan minum, beri ia pengertian bahwa perilakunya membahayakan dirinya dan orang lain. Anda perlu menyediakan ruang gerak yang cukup untuk anak tipe ini. Di waktu yang sama, ajarkan agar ia mengatur nafas dahulu sebelum berlari, melompat atau menerjang tumpukan bantal. Secara bertahap ia akan merasakan manfaat olah napas ini, karena ia berpikir terlebih dahulu sebelum beraksi.
  • Bila: Masih saja melempar barang untuk tanda tidak setuju walaupun Anda sudah memberitahu anak agar bicara langsung bila hendak menolak, atau dengan memberitahu keinginannya kepada pengasuh dan menghindari cara melempar barang atau memukul.
    Lakukan: Tak perlu bosan memberitahu balita berkali-kali. Pengulangan adalah cara belajar balita yang paling mudah. Selain itu, ia butuh contoh nyata dari orang sekitarnya, terutama Anda. Apabila Anda melarangnya melempar mainan sebaiknya tidak melakukannya demi alasan apa pun.
  • Bila: Balita membuang makanan dari sendok dan piring makannya, padahal berkali-kali Anda melarangnya. 
    Lakukan: Beri balita kesempatan membuang makannya satu kali, siapkan playdough atau soft toys untuk eksperimen lempar-ambil balita. Ia hanya butuh kesempatan melihat langsung akibat dari perilakunya. 
sumber: http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Tips/Balita/menghadapi.balita.agresif/001/005/298/12/3

Si Kecil Ingin Berenang

Diposting oleh elda utami di 01.30 0 komentar
Hingga usia satu tahun, bayi Anda belum berkenalan lebih jauh dengan air? Sudah saatnya mengenalkannya dengan air dan kolam renang.

Berenang adalah sarana terbaik bagi anak untuk mengenal lebih jauh tentang air. Bagi si satu tahun, konsep berenang bisa diartikan dengan sekadar bermain air di kolam renang atau di kolam renang plastik.

Sebelum mengajak balita Anda berenang, perhatikan hal-hal berikut:
  • Pilih lokasi dangkal, khusus untuk anak, kira-kira 30 cm.
  • Kebersihan kolam renang terjaga baik.
  • Kenakan rompi pelampung yang pas untuk keamanan anak. Hindari ban pelampung karena balita akan lebih mudah terjungkal ketika ban terguling.
  • Jangan terlalu lama berendam. Lakukan secara bertahap, namun usahakan tidak lebih dari setengah jam untuk anak usia 1 tahun.
  • Pastikan balita Anda selalu berada dalam rengkuhan Anda, agar tidak ada air yang masuk ke dalam mulut atau telinganya.
  • Jangan pernah tinggalkan anak bermain sendiri di sekitar kolam renang walaupun kedalaman kolam sangat dangkal.

Ciptakan suasana menyenangkan dan santai agar balita Anda tidak takut ketika tubuhnya basah dan terciprat air. Tentunya ini akan menjadi pengalaman menyenangkan untuknya!

sumber: http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Tips/Balita/tips.belajar.berenang.untuk.si.satu.tahun/001/005/126/4/3

Menolak Halus Keinginan Si Kecil

Diposting oleh elda utami di 01.27 0 komentar
Seringkali orang tua harus melarang balita melakukan sesuatu yang diinginkannya demi kebaikan, penanaman etika moral dan disiplin. Namun semakin Anda melarang, maka balita akan semakin merengek. 

Ini dia tiga kalimat tolakan jitu ketika menghadapi balita.

Kebanyakan melarang memang bisa membuat anak menjadi tidak kreatif dan takut mencoba. Namun jika memang permintaannya benar-benar tidak bisa dipenuhi, cobalah untuk melarangnya dengan bahasa yang halus. Pakar psikologi anak, Barbara Coloroso dalam bukunya “Kid's Are Worth It” memberi 3 cara halus menolak permintaan balita dengan mengatakan:
  1. “Boleh! Tapi tidak sekarang, ya...” Kalimat tersebut mengurangi kesan Anda kebanyakan mengatakan “tidak” kepadanya, serta memperkecil keinginan balita memaksa. Anda pada dasarnya memperbolehkan, hanya tidak saat itu.
  2. “Tunggu sebentar...” Kalimat tersebut memberi Anda tenggang waku untuk berpikir mencari alasan. Penundaan juga membuat balita melupakan keinginannya yang sebetulnya tidak Anda setujui.
  3. “Yakinkan ibu atau ayah dulu, kalau kamu bisa...” Kalimat tersebut membuat balita tertantang untuk menunjukkan berbagai hal yang mampu dilakukannya, sampai akhirnya balita melupakan keinginannya tersebut.

Jika perlu, berikan alasan yang kuat mengapa Anda melarangnya, agar balita mengerti apa yang benar dan salah.


sumber: http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Tips/Balita/mempersiapkan.balita.tidur.sendiri/001/005/243/10/3

10 Cara Agar Balita Cinta Buku

Diposting oleh elda utami di 01.20 0 komentar
Walaupun balita belum dapat membaca, Anda dapat mengajarnya membaca dan mencintai buku. Kemampuan membaca dan mencintai buku penting ditanamkan pada anak-anak sejak usia dini. Karena, kegiatan membaca bersama anak, penting bagi pembentukan dasar diri balita, juga untuk keseluruhan proses belajar balita, kelak.
Berikut ini cara-cara mudah yang dapat Anda terapkan .
  • Memberi buku-buku cerita yang menarik. Pilihlah buku yang terbuat dari kertas karton tebal dan tahan air, sehingga tidak mudah rusak jika dibuka-buka maupun dimainkan. Cari buku-buku dengan gambar dan warna yang menarik serta sedikit tulisan.
  • Membuat perpustakaan mini. Buatlah perpustakaan mini dengan suasana yang nyaman. Sediakan karpet atau berbagai bantalan di dekat rak tempat balita menyimpan buku-bukunya. Rak buku mudah dijangkau oleh balita serta tidak membahayakannya.
  • Membacakan cerita secara berkala. Sediakan waktu secara berkala untuk membacakan cerita bagi balita, seperti sebelum tidur. Jika mungkin, buatlah alat peraga sederhana untuk menunjang cerita. Misalnya, boneka tangan yang dijadikan sebagai tokoh cerita.
  • Bermain tebak-tebakan cerita. Ketika membacakan sebuah cerita pada balita, berhentilah pada satu titik tertentu ketika cerita mengarah ke satu arah, lalu tanyakan apa yang terjadi dengan tokoh utama menurut balita. Dengan cara ini ia terbiasa mengarang sebuah cerita sendiri
  • Membacakan apa saja. Jangan hanya berhenti pada buku cerita. Bacakan apa saja yang dapat Anda baca dengan suara keras. Misalnya, resep makanan yang Anda buat, atau amplop surat yang Anda terima. Selain itu, tunjuk tulisan apa saja yang terpampang di jalan dan bacakan dengan keras.
  • Menciptakan suatu tokoh. Carilah serial cerita yang sangat disukai balita, buatlah tokoh tersebut sebagai tokoh panutan yang dikenal seluruh keluarga, sehingga akan sering disebut-sebut dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Dengan cara itu, secara tidak langsung, sang tokoh pun mengajarkan berbagai nilai pada balita.
  • Meminta balita membaca cerita. Sekali-sekali mintalah balita memilih buku cerita yang disukainya, lalu biarkan ia membacanya untuk Anda. Biarlah anak bercerita sesuai apa yang ingin diceritakannya dan jangan melontarkan kritik.
  • Membuat buku cerita bersama. Biasakan untuk menanyakan cerita dibalik setiap gambar yang dibuatnya, lalu menuliskan cerita tersebut di bawah gambarnya. Jadikan satu lembaran-lembaran gambar beserta ceritanya tersebut, lalu dijilid.
  • Mengajak bermain huruf dan angka. Berbagai mainan dapat merangsang balita untuk mengenal huruf dan angka. Ajaklah ia memainkannya. Misalnya, minta dia untuk mencari dua kartu dengan angka atau huruf yang sama bentuknya. Atau, pasanglah kertas bertuliskan nama-nama benda pada benda yang ada di sekitarnya. Permainan-permainan sederhana ini merupakan upaya awal balita untuk dapat belajar membaca.
  • Memperlihatkan asyiknya membaca. Biarkan balita melihat betapa asyiknya Anda membaca berbagai buku. Tunjukkan pada anak bahwa membaca sangat menyenangkan
sumber: http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Tips/Balita/10.cara.agar.balita.cinta.buku/001/005/184/6/3

Selasa, 30 November 2010

Si Kecil Mau Berbagi

Diposting oleh elda utami di 01.16 0 komentar
Anak-anak di usia prasekolah lebih mudah untuk diajarkan hidup bersosialisasi. Persahabatan dan kegiatan berkelompok merupakan hal yang paling mereka gemari. Pada saat inilah Anda dapat mengajarkan sifat murah hati pada si kecil, seperti berbagi makanan atau bergantian bermain ayunan.
Tentu saja kita tidak dapat mengharapkan sikap yang konsisten dari anak seusia ini. Anak-anak usia prasekolah lebih memikirkan dirinya sendiri. Mereka juga sangat menjaga milik pribadinya sedemikian rupa sehingga tidaklah mudah bagi mereka untuk berbagi begitu saja. Mungkin, bagi kita orang dewasa, apalah artinya boneka atau mobil-mobilan, namun bagi anak-anak benda-benda tersebut sangat berarti dan mereka akan menjaga dan mempertahankannya sedemikian rupa karena barang-barang tersebut merupakan "harta berharga" mereka.
Yang jelas, ada saat-saat di mana mereka bisa bersikap murah hati. Nah, saat itulah kesempatan baik bagi Anda untuk memuji dan memberi dukungan atas kebaikan hati yang mereka lakukan terhadap sesama temannya.

CARA EFEKTIF:
1. Memberi Contoh. Misalnya, saat makan siang tanyakan padanya apakah dia mau roti yang sedang Anda makan dan katakan padanya bila dia mau Anda akan membaginya separuh. Melakukan kegiatan yang menyenangkan bersama-sama juga merupakan salah satu cara yang baik. Misalnya mencuci mobil atau menyiram tanaman.
2. Mengenal kebutuhan orang lain. Misalnya saat dia mengatakan ingin cokelat, Anda dapat memintanya untuk berpikir, kira-kira menurut dia apa yang Anda inginkan. Hal ini akan membuat anak terbiasa memikirkan bahwa orang lain pun mempunyai keinginan dan keperluan. Dengan cara demikian, secara tidak langsung Anda mengajarkan anak untuk tidak egois, tidak mementingkan diri sendiri, dan peka akan kebutuhan orang lain.
3. Kita tidak harus selalu berbagi. Memang, ada saat di mana kita perlu berbagi tetapi ada juga saat tidak perlu berbagi. Sebagai contoh, katakan padanya. temannya hanya dapat meminjam mainannya tetapi tidak berarti dapat membawa mainannya ke rumahnya.
4. Perlihatkan bahwa Anda tak menyukai sikap egois. Teguran yang tegas, konsisten, namun tidak kasar, akan mengajarkan pada anak bahwa di dalam keluarga diterapkan sifat murah hati. Anda dapat mengatakan padanya, Anda tidak senang melihat dia tidak mengizinkan adiknya ikut memainkan boneka atau mobil-mobilan miliknya.
Katakan, di dalam keluarga harus dibiasakan memiliki sifat berbagi. Jadi, dia harus memberi kesempatan kepada adik untuk ikut bermain. Tapi ingat, hindari memberi hukuman karena hal tersebut hanya akan membuat dia semakin membangkang.
5.Beri pujian. Pada saat anak mau berbagi, ungkapkan rasa senang dan bangga Anda atas sikap si kecil. Sikapnya yang manis itu pantas diberi pujian dan dengan demikian secara perlahan-lahan sikap baik hati dan murah hati akan melekat pada dirinya.
6. Memang bukan hal mudah untuk berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain.
Anda pun tidak akan mengizinkan mobil baru Anda dikendarai oleh tetangga bukan? Demikian juga halnya dengan si kecil.
Pasti ada mainan-mainan tertentu yang paling digemarinya. Apalagi kalau mainan tersebut baru saja dibeli. Dalam hal ini, Anda dapat mengatakan pada si kecil untuk menyimpannya bila ada temannya yang akan bermain ke rumah dan katakan padanya, dia tidak harus selalu berbagi semua mainan dengan temannya. Ia bisa memilih mainan yang lain untuk dapat dimainkan bersama-sama.
7. Salah satu cara lain yang juga efektif adalah belajar dari teman seusia.
Usahakan agar Anda tidak selalu melibatkan diri pada saat mereka berebut mainan. Percayalah, pada akhirnya, dengan sendirinya, anak-anak belajar cara berkompromi karena mereka akan menyadari bahwa bila mereka egois, maka teman-teman tidak akan mau bermain dengannya.
8. Bila si kecil bersikeras tidak mau berbagi dan hal ini merupakan hambatan utama baginya, selidiki penyebabnya. Apakah Anda baru saja pindah rumah? Apakah dia baru saja mulai masuk sekolah (taman bermain)? Atau apakah binatang peliharaan kesayangannya baru saja mati? Pada masa transisi, sikap posesif anak-anak akan lebih menonjol. Hal ini disebabkan oleh rasa kehilangan karena baru saja dia memperoleh sesuatu yang dia sayangi tiba-tiba dia harus kehilangan. Beri dukungan dan bersama-sama cari jalan keluar mengatasi masalah yang mengganggunya.

Sumber : http://tabloidnova.com/Nova/Tips/Agar-Si-Kecil-Murah-Hati

Cerdas Memilih Dongeng Anak

Diposting oleh elda utami di 01.03 0 komentar
Manfaat Dongeng Anak
Mendongeng untuk anak merupakan salah satu cara untuk membangun komunikasi yang erat antara orangtua dan anak. Selain itu bisa meningkatkan kemampuan memori anak pada masa usia keemasan (golden age).
Dongeng anak dapat juga dijadikan sebagai ajang pembelajaran budi pekerti, disiplin dan etika pada anak sejak usia dini. Oleh karena itu, usahakan sedini mungkin bagi kita mendongeng untuk anak. Bila perlu sejak anak masih dalam kandungan.
Adakalanya orang tua tidak pandai dalam mendongeng. Tenang saja. Saat ini sudah banyak beredar buku dongeng anak. Berbagai judul maupun kemasan dapat dengan mudah kita dapatkan.

Bermacam Buku Dongeng
Ada buku dongeng anak yang terbuat dari kain, sehingga aman untuk anak yang masih bayi. Ada yang hardcover dengan banyak gambar dan warna-warni yang beragam dan cerah menarik mata anak. Ada juga yang tipis dan kecil layaknya buku saku yang bisa dibawa ke mana-mana.
Untuk jenis dongeng juga beragam. Ada fabel (dongeng binatang), dongeng fantasi, ataupun juga dongeng legenda turun temurun yang sudah ada dari zaman kita masih kecil. Isi buku dongeng anak juga beraneka. Lebih banyak gambar ilustrasi namun ada juga yang komposisi antara tulisan cetak dan ilustrasi cerita berimbang

Menentukan Buku Dongeng Anak
Bila Anda tak mengikuti perkembangan buku dongeng anak. Tenang saja. Berikut ini tips untuk mencari dan menentukan buku dongeng untuk anak Anda:
  1. Sesuaikan umur anak dengan buku yang akan kita bacakan.
  2. Perhatikan kualitas sampul dan isi buku. Apakah warnanya luntur di tangan atau kertas terlalu tajam sehingga bisa melukai anak.
  3. Untuk anak balita dan usia awal sekolah pilihlah buku dongeng dengan banyak gambar dan warna-warna cerah.
  4. Bacalah dulu secara keseluruhan buku dongeng dengan seksama. Bila ada kata umpatan atau gambar yang tak layak dilihat anak-anak lebih baik singkirkan jauh-kauh buku tersebut.
  5. Mendongenglah kapan saja dan dimana saja. Jangan menunggu hanya ketika anak hendak tidur.  
  6. Bangun komunikasi dua arah dengan anak. Jangan sampai anak hanya mendengarkan secara pasif. Selipkan juga pelajaran moral dan etika pada anak.
  7. Tunjukkan anak gambar yang ada di dalam buku. Ajak anak untuk melanjutkan isi dongeng sesuai dengan imajinasinya. Tak masalah bila isi dongeng versi anak jauh melenceng dari cerita dalam buku.
  8. Lakukan kontak fisik pada anak ketika mendongeng. Belai, elus, peluk ataupun cium. Bangun kedekatan emosi antara anda dan anak.
Mudah bukan? Mulai sekarang jangan ragu lagi. Segeralah mendongeng untuk anak. Dan nikmatilah saat-saat menyenangkan bersama anak Anda.

dikutip dari: www.anneahira.com

Bunda, Mari Mendongeng...

Diposting oleh elda utami di 00.53 0 komentar
Saat ini banyak orangtua yang tidak menyadari pentingnya daya imajinasi pada anak. Pada umumnya orangtua hanya mengajarkan anaknya membaca dan berhitung saat mereka balita.
Demikian hal tersebut dinyatakan oleh Yoshimi Hori, salah seorang pendiri Jakarta Japan Network (J2net) dalam acara seminar dan workshop anak, buku, dan dunia dongeng di The Japan Foundation, Jakarta, Selasa (3/3). Padahal, menurutnya kemampuan imajinasi pada dunia nyata sangat penting untuk berpikir kreatif dalam merencanakan sesuatu dan berkomunikasi dengan baik.

Sebenarnya banyak sekali manfaat yang kita dapatkan dari cerita anak, diantaranya adalah : 

1. Cerita adalah cara paling pas untuk mendisiplin anak
Di Nepal, anak-anak tidak didisiplinkan melalui hukuman fisik karena para ibu tidak suka melihat anak-anak murung atau menangis. Sebaliknya, mereka mengontrol perilaku anak lewat cerita. Ternyata cara ini cukup berhasil.

2. Mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak.
Anak-anak paling suka mendengarkan cerita anak. Jika kita lakukan setiap hari, maka cara ini dapat membuat kita semakin mengenal anak kita dan sebaliknya. Kalangan ahli psikologi menyarankan agar orangtua membiasakan mendongeng untuk mengurangi pengaruh buruk alat permainan modern. Hal itu dipentingkan mengingat interaksi langsung antara anak balita dengan orangtuanya dengan bercerita sangat berpengaruh dalam membentuk karakter anak menjelang dewasa.

3. Mengasah daya pikir, kreatifitas dan imajinasi
Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini. Anak yang biasa mendengarkan cerita, akan lebih mudah mengungkapkan isi hati dan pemikirannya dengan kata-kata, lisan maupun tertulis. Dia akan memiliki banyak kosa kata.

4. Cerita anak merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika
Berbagai nilai seperti kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, hingga empati maupun berbagai kebiasaan sehari-hari seperti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut, karena tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak. 

5. Cerita anak dapat melatih Multiple Intelligences
Melalui dongeng, jelajah cakrawala pemikiran anak akan menjadi lebih baik, lebih kritis, dan cerdas. Anak juga bisa memahami hal mana yang perlu ditiru dan yang tidak boleh ditiru. Hal ini akan membantu mereka dalam mengidentifikasikan diri dengan lingkungan sekitar disamping memudahkan mereka menilai dan memposisikan diri di tengah-tengah orang lain. Sebaliknya, anak yang kurang imajinasi bisa berakibat pada pergaulan yang kurang, sulit bersosialisasi atau beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

6. Sebagai langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak.
Setelah tertarik pada berbagai cerita anak, mereka diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku cerita yang sering didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.
Terlepas dari banyaknya manfaat tersebut, hendaknya kita tetap harus berhati-hati. Jika tidak teliti, cukup banyak cerita anak yang rawan menjadi teladan buruk bagi anak-anak. Hal ini disebabkan muatan yang terkandung harus dipertimbangkan dengan kondisi psikologi yang mungkin diserap oleh sang anak, Jangan sampai terjadi kesalahan pemahaman dari cerita tersebut, yang dimaksudkan positif malah menjadi negatif…

Dikutip dari: http://febryan.com/?p=377
 

rumahku sekolahku... Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez