Senin, 08 Juli 2013

Dilema Ibu Bekerja

Diposting oleh elda utami di 09.38 1 komentar
Mencoba menekuni dunia tulis menulis, setelah sekian lama disibukkan oleh masalah rutin yang kian hari kian bertumpuk...

Curhat saya kali ini adalah tentang Ibu Bekerja dan keluarga yang tidak berkonsep.
Mungkin, ibu-ibu bekerja yang lain pun akan menghadapi masalah yang sama, dilema yang sama, dan pada akhirnya mengambil keputusan berbeda, sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Pertimbangan suami, keluarga besar, dan masa depan anak.

Mengingat kembali masa kecil saya, bagaimana orang tua dulu sangat berhati-hati dalam mendidik anak-anaknya, mulai dari sajian makanan yang segar dan tidak berpengawet, rizki yang halal, dan rutinitas harian yang sangat sarat dengan pendidikan agama. Sedangkan melongok kembali agenda harian yang saya terapkan untuk anak saya, berangkat pagi-pagi (bersamaan dengan mengantar anak ke sekolah), dan pulang mendekati waktu Isya. Pendidikan sebagian besar dipercayakan pada sekolah tempat anak menghabiskan hari-harinya. Berharap anak-anak kita kelak akan menjadi insan yang bermanfaat bagi sekitar.

Ada banyak alasan yang bisa saya ceritakan mengenai pilihan saya menggunakan jasa sekolah fullday (bukan sekedar penitipan anak), antara lain adalah:
1. Visi dan misi yang jelas. Sekolah tersebut menerapkan standar pengasuhan yang jelas dan terarah. Bahwa pendidikan tidak didapatkan melalui paksaan. Bahwa bermain pun akan menjadi sarana yang menyenangkan untuk transfer ilmu. Bahwa ilmu paling dasar yang harus dimiliki setiap anak adalah bisa mandiri. Dan TV bukanlah sarana untuk menyampaikannya.
2. Kualitas guru yang dijaga. Bukan sekedar pencari kerja yang mengisi waktu luangnya untuk menjaga anak-anak kita, tapi lebih kepada pribadi-pribadi yang menyukai waktunya terisi dengan gelak canda, bahkan lebih sering tangis anak-anak. Mereka menyadari sepenuhnya, bahwa anak-anak itulah investasi akhirat kita kelak.
3. Fleksibilitas. Kenapa saya memasukkan kriteria ini, karena saya sendiri merasakan sebagai seorang wanita pekerja, kadang saya mengalami kesulitan untuk mengikuti jadwal yang terlalu ketat atau terkesan mendadak. Ketika tiba-tiba mendekati waktu pulang, terpaksa mendapatkan setumpuk pekerjaan yang harus segera diselesaikan, mau tidak mau saya membutuhkan kelonggaran hati dan waktu mereka.
4. Makanan yang sehat. Sampai dengan saat ini, usia anak saya hampir 3 tahun, tetapi sama sekali tidak tertarik dengan makanan-makanan ber-MSG. Alhamdulillah, berkat snack harian yang selalu bervariasi dan tidak pernak menyajikan makanan ringan, saya lebih santai ketika melenggang di deretan rak jajanan ketika berada di pasar swalayan.

Banyak teman yang menanyakan, mengapa saya bisa setega itu menyekolahkan anak saya sejak masih kecil. Saya hanya bisa tersenyum dan menjawab dalam hati, mengapa mereka begitu tega meninggalkan anak-anak mereka di rumah dengan pembantu tanpa pengawasan sama sekali? Tidakkah mereka akan menyesal suatu saat kelak, ketika semuanya sudah terlambat?

Di negara maju, menyekolahkan anak bukanlah hal yang aneh. Dan tidak memiliki pembantu adalah hal yang biasa. Jadi, menurut saya, semuanya sangat mungkin untuk dijalani. Ketika semua kebutuhan anak kita cukupi sendiri, Insya Allah bonding kita dengan anak-anak akan semakin kuat, karena menurut saya menjaga bonding itu tidak cukup sampai kita menggenapkan ASI hingga 2 tahun.

Terlepas dari semua itu, saya percaya sepenuhnya, bahwa kekuatan terbesar yang saya miliki sebagai seorang ibu adalah doa. Semoga kita bisa memanfaatkan peran kita sebagai Ibu untuk menyiapkan masa depan (dunia dan akhirat) anak-anak kita dengan sebaik-baiknya. Amin.

Kamis, 17 Februari 2011

Pilihkan PAUD yang Tepat Untuk Si Kecil

Diposting oleh elda utami di 00.13 0 komentar
KOMPAS.com - Selama 7 tahun di Indonesia, Prof. Sandralyn Byrnes mengamati permasalahan pendidikan anak usia dini di Indonesia. Dari penelitian yang ia lakukan, dan menilai berdasarkan pengetahuannya sebagai profesor dan pengalaman sebagai guru anak-anak usia dini, ia menilai bahwa ada beberapa hal yang mengganjal pada pendidikan anak usia dini di Indonesia.

Selama 7 tahun meriset dan mencari tahu mengenai proses pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes menemukan beberapa hal yang mengganjal. "Pada umumnya, kita semua tahu bahwa pendidikan anak usia dini itu penting, karena di usia inilah terjadi proses pembentukan pendidikan yang paling penting. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah. Investasi terbaik yang bisa Anda berikan untuk anak-anak adalah persiapan pendidikan mereka di usia dini. Hasil investasi ini akan dilihat di masa depan, selepas mereka dari sekolah. Kalau Anda salah pilih sekolah untuk anak usia dini, akan ada konsekuensi di masa depan anak," terang Byrnes yang mendapatkan titel Australia's and International of The Year ini.

Lalu, bagaimana cara memilih sekolah untuk anak usia dini yang terbaik? Byrnes menyarankan:
- Cek kurikulumnya. Ketahui apa saja yang akan diajarkan dan bagaimana cara pengajarannya.
- Bicara dengan gurunya. Lihat apakah ada gairah dari para guru untuk mengajar kepada anak-anaknya. Jika mereka hanya melakukan pekerjaan, percuma. Anak tak akan diperhatikan kebutuhannya, karena kebutuhan setiap anak itu berbeda. Tanyakan pula mengenai cara menghadapi anak, ungkap masalah anak Anda, dan perhatikan jawaban si guru. Guru yang  baik seharusnya tahu mengenai cara menghadapi anak-anak dengan berbagai kebutuhan.
- Bicara pula dengan kepala sekolahnya. "Seorang kepala sekolah harus tahu dan paham mengenai pendidikan anak usia dini. Jika Anda tahu orang yang memimpin mengerti tugasnya, Anda akan tenang dan yakin bahwa sekolah si anak berjalan ke arah yang benar," ujar Byrnes.
- Perhatikan pula lokasi belajarnya. Anak-anak masih belum paham benar apa yang aman dan tidak aman baginya. Pastikan lokasinya aman, tidak banyak benda-benda berbahaya bagi anak, serta bersih.
- Kunjungi sekolah di jam belajar. Lihat bagaimana anak-anak berinteraksi dengan sekelilingnya. Apakah ada senyum di sana? Apakah anak-anak di sana terlihat bahagia? "Kalau anak-anak usia dini itu tidak tertawa atau tersenyum, bisa dibilang ada yang tidak beres di sana," ungkap Byrnes. "Menurut saya, anak-anak juga harus bisa mendapat pelajaran di luar kelas. Mereka harus berinteraksi dengan alam untuk melatih motorik mereka," tambahnya.
- Nilai-nilai lain pun sebaiknya diajarkan di usia ini untuk masa depannya, seperti cara bersosialisasi, sikap sopan, dan sifat karakteristik yang baik.
- Perhatikan pula program yang dijalankan. "Seharusnya ada segitiga kerjasama tak terputus antara guru, sekolah, dan orangtua. Ketiganya harus bekerja dengan baik. Harus ada program lain, keterlibatan orangtua-anak di sekolah tak hanya sebatas antar-jemput sekolah."
Satu hal yang dipesankan Byrnes, jangan pernah menyerahkan pemilihan sekolah anak usia dini kepada si anak. "Anak-anak belum mengerti apa yang harus diperhatikan. Saya sering sekali melihat orangtua menanyakan kepada anak, 'Bagaimana sekolahnya? Kamu mau sekolah di mana?' Itu bukan cara yang tepat untuk memilih lembaga pendidikan anak usia dini. Orangtualah yang bertanggung jawab dan bertugas memilih sekolah yang terbaik untuk anak," tutup Byrnes.


sumber: http://female.kompas.com/

Minggu, 30 Januari 2011

Menuai Imajinasi Lewat Dongeng

Diposting oleh elda utami di 19.22 0 komentar
KOMPAS.com - Raras sudah selesai "menunaikan" kewajibannya, yaitu mengerjakan pekerjaan rumah sampai tuntas. Sang ibu, Santi bergegas memberikan hadiah untuk anaknya berupa susu cokelat hangat dan sebuah dongeng sebagai pengantar tidur. Putrinya senang bukan kepalang, momen favoritnya kembali terjadi. Meski dilakukan hampir setiap hari, Raras tak pernah bosan mendengar cerita-cerita ibunya. Begitu juga dengan Santi, baginya tak ada yang lebih berharga selain melihat putrinya dipenuhi gelak tawa.

Ssst, dari kegiatan mendongeng ini, tak jarang ide-ide luar biasa datang dari Raras yang membuat dongeng makin seru untuk dilanjutkan.

Kejadian di atas bisa jadi terjadi di kehidupan Anda. Mendongeng memang terlihat sepele, padahal sungguh banyak efek positif yang bisa didapat dari kegiatan ini. Jadi, jangan segan meluangkan waktu untuk mendongeng. Atau Anda termasuk salah satu orangtua yang tak pernah melewatkan kesempatan ini bersama anak? Yang jelas, mendongeng punya banyak manfaat dan untuk melakukannya tak harus terpaku dengan yang baku.

Banyak Nilai Positif
Mendongeng untuk anak mungkin terlihat sepele, padahal dari kegiatan ini, begitu banyak manfaat yang bisa diraup. Bisa dibilang, mendongeng justru diperlukan oleh anak-anak untuk meraih potensi mereka yang masih terpendam. Menurut Helen Heard (penulis The Educational Benefits of Story Telling), Jacob dan Wilhelm Grimm (salah satu pencerita ulung di dunia), mengaku lewat cerita yang mereka tulis, ada pesan moral yang diselipkan. Anak mengenal nilai-nilai kesopanan, perjuanagn, hingga kepahlawanan dari dongeng yang diceritakan.

Nah, anak yang biasa didongengi akan mengingat kebiasaan ini hingga kelak ia tumbuh besar. Dari sini ia akan lebih bersemangat ketika disodori bahan bacaan dan mempunyai pengetahuan yang lebih luas mengenai kosakata hingga bahasa.

Selain itu, mendongeng dan bercerita juga membangun rasa kebersamaan dengan keluarga dan sekitarnya. Entah itu orangtua, saudara, kakek-nenek, atau siapa pun yang membacakan cerita, pada akhirnya mata anak akan terbuka lebar mengenai warna-warni duniahingga merasakan keterkaitan batin yang luar biasa. Bercerita juga bagus untuk mengajarkan anak secara halus namun efektif jika Anda ingin menanamkan nilai-nilai hingga kebiasaan positif dalam kesehariannya.

Tahukah Anda? Mendongeng sudah dilakukan sejak zaman purbakala untuk meneruskan riwayat keberadaan mereka dari nenek moyangnya hingga sekarang, sekaligus memberikan ilmu mengenai bahasa ibu. Ketika itu, belum ada huruf apalagi kertas, maka mereka biasanya berkumpul kala malam di tengah api unggun dan memulai cerita pada keturunannya yang masih belia.

(Astrid Isnawati/Tabloid Nova)

sumber: http://female.kompas.com/read/

Kapan Minat Baca Anak Bisa Ditumbuhkan?

Diposting oleh elda utami di 19.16 0 komentar
KOMPAS.com - Membaca memiliki begitu banyak keuntungan bagi perkembangan anak. Tak hanya untuk menambah pengetahuan. Membaca bacaan yang baik bisa melatih otak agar tetap aktif, menjadi lebih analitis, serta membangun sikap serta karakter positif seseorang. Apalagi jika kebiasaan si anak untuk membaca tersebut mulai dikembangkan dengan membaca buku bersama orangtuanya (Baca: Banyak Berkutat dengan Elektronik Bikin EQ Anak Buruk?).

Menurut Sani B. Hermawan, Psi, Direktur Lembaga Daya Insani, saat peluncuran buku Juven: Sahabat Sejati di The Cone, FX, Jakarta, beberapa waktu lalu, semakin banyak diajak bercerita, makin banyak manfaat yang digali oleh anak-anak. Beberapa manfaat yang bisa digali oleh anak saat berbagi bercerita adalah:
* Meningkatkan "mental alertness", daya tangkap, kreativitas, dan logika berpikir.
* Meningkatkan wawasan pengetahuan.
* Menanamkan nilai positif, seperti empati, solidaritas, toleransi, dan tolong menolong.
* Membentuk karakter positif.
* Membangun hubungan emosional hangat dengan orangtua (koneksi dengan anak).

Lalu, sejak kapan minat membaca anak bisa ditumbuhkan? Sani mengatakan, "Sejak lahir, anak sudah  bisa diajak membaca. Bangun dialog dengan anak sejak lahir dengan cara diajak berkomunikasi dan dibacakan cerita. Anak-anak yang dibacakan cerita dan diajak berkomunikasi bisa memiliki kemampuan verbal yang lebih tinggi dibanding yang didiamkan saja. Bahkan saat anak masih berada dalam kandungan pun bisa diajak berbicara dan dibacakan cerita," jelas Sani lagi.


sumber: http://female.kompas.com/

Sholat Yuk Nak....

Diposting oleh elda utami di 18.22 0 komentar
Salah satu kewajiban orangtua adalah mendidik anak-anaknya untuk taat pada perintah Allah. Salah satunya dengan mengajarkan sholat, menjelaskan bahwa sholat adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dan pendidikan sholat ini dimulai sejak dini. Rosulullah sendiri mengajarkan kepada para orangtua untuk memerintahkan anaknya sholat pada usia 7 tahun, dan memukul mereka jika tidak mau sholat pada usia 10 tahun.
Sering kali orang tua lalai akan kewajiban yang satu ini. Dengan dalih, “kan masih kecil, belum baligh”, sehingga akhirnya anak-anak tumbuh besar dengan kebiasaan tidak sholat. Itu diperparah dengan kebiasaan orangtua sendiri yang sering meninggalkan shalat. Masya Allah…
Berikan teladan. Anak-anak melihat dan meniru bagaimana kebiasaan orangtuanya. Anak laki-laki, biasanya melihat sosok ayahnya sebagai figur idolanya. Anak perempuan melihat ibu sebagai figur idolanya. Jika ayah dan ibu mereka adalah orang yang senantiasa menjalankan perintah agama, maka insya Allah, anak-anak pun akan mudah untuk diarahkan. Karena mereka melihat betapa ringan dan mudahnya orangtua menjalankan kewajiban tersebut.
Ajak sholat bersama. Walaupun ia belum mengerti tentang kewajiban sholat, tak ada salahnya bagi kita untuk mengajaknya sholat bersama kita. Sesekali ia memang bermain-main. Tapi, semakin ia besar, dan kita memberikan pengertian yang dapat diterimanya, maka ia akan memperbaikinya dan sholat dengan cara yang benar.
Belikan perlengkapan sholat. Anak-anak akan semakin bergembira dan senang diajak sholat jika Anda menyediakan perlengkapan sholat khusus untuknya. Jika tak sanggup membeli, dan Anda memiliki kemampuan di bidang jahit-menjahit, membuatkan mukena atau baju koko mini yang sesuai dengan anak Anda akan membuatnya bangga dan senang.
Bawa ke masjid dengan penjagaan. Siapa bilang tidak boleh membawa anak-anak ke masjid? Boleh-boleh saja, namun, dengan penjagaan. Misalnya, Anda membuat perjanjian dengannya agar tidak berisik dan bermain-main pada saat sholat. Ajarkan anak-anak tentang adab-adab di masjid, sehingga ia pun melakukan hal tersebut dengan kesadaran.
Cari sekolah yang mengajarkan anak untuk berlatih sholat sejak dini. Saat anak-anak mulai sekolah, dan untuk menyesuaikan pola pendidikan Anda di rumah yang mengajarkan kedisiplinan untuk sholat, ada baiknya Anda memilihkan sekolah yang juga melatih mereka untuk sholat, terutama sholat berjama’ah. Sering kali kita sudah mendidik anak untuk sholat tepat waktu, tapi ternyata sekolahnya tidak mengajarkan untuk sholat tepat waktu, bahkan tidak ada jam istirahat untuk sholat saat waktunya tiba.

 sumber: http://pondokibu.com/

Menghentikan Kebiasaan Menjambak

Diposting oleh elda utami di 02.08 0 komentar
Jelas menjambak bukan cara tepat berkomunikasi! Cara berikut dapat menghentikan anak menarik rambut orang lain agar tak menjadi kebiasaan:
  1. Gagalkan usahanya.  Satu cara untuk menekan perilaku anak yang tidak baik adalah menunjukkan bahwa usahanya tidak mempan.  Bila Anda abaikan, anak akan menggunakan cara itu karena dia pikir   boleh digunakan. Bila Anda  menuruti keinginan anak karena rambut Anda ditarik, cara ini juga akan terus dia gunakan. Bila Anda memberikan hukuman, misalnya; “Baik. Karena kamu menarik rambut Bunda, Bunda tidak mau bacakan cerita.”  Anak Anda belum biasa memahami situasi ini.  Cara yang cocok untuk situasi ini adalah; “Tidak boleh menarik rambut. Sekarang waktunya mandi, mandi dulu!” 
  2. Tekan perilakunya.  Hukuman tak cocok untuk anak  usia ini. Cara yang cocok adalah  mengatakan dengan tegas, “Tidak boleh menarik rambut. Sakit.” Time out   cocok diberikan pada anak usia di atas 2 tahun. Pegang tangan anak dengan lembut, lepaskan dari rambut Anda. Tatap mata anak, dan jangan diajak bicara lagi selama sepuluh menit. 
  3. Ajak bicara. Setelah masa didiamkan berakhir, ajak anak bicara. Meski kemampuan bicaranya masih terbatas, jelaskan bahwa menjambak bukan cara untuk memecahkan masalah. Katakan, “Menarik rambut itu tidak boleh. Tahu, kenapa?” Mungkin  anak menjawab, “Supaya aku tidak dimarahi.”  Tak masalah. Ini perkembangan moral yang normal pada anak usia ini. Katakan, “Betul. Kalau kamu menarik rambut Bunda atau Mbak, kamu akan dimarahi, karena kamu menyakiti orang.” 
  4. Jangan dibalas  menarik rambutnya supaya ia tahu rasanya. Kalau Anda ingin anak tidak menarik rambut, jangan lakukan terhadap anak. Balas membalas tarik rambut, memberi pesan pada anak, perilaku ini boleh diakukan untuk mengubah perilaku orang lain. Pemikiran bahwa anak harus mengalami rasa sakit karena ditarik rambutnya, tidak akan membuat anak usia ini jera karena kemampuan empati belum berkembang untuk mengaitkan perilakunya dengan balasan fisik (rasa sakit karena rambutnya ditarik) yang dia terima. 
  5. Latih bicara. Anak harus paham bahwa komunikasi verbal adalah cara tepat untuk mengungkapkan keinginan. Kekerasan bukan cara yang baik! Semakin dini Anda berusaha menghentikan perilaku ini, semakin cepat Anda mengubah perilakunya. Bantu anak menerjemahkan keinginannya, misalnya “Setelah main, minum susu dulu atau mandi dulu?”  Mungkin anak akan menjawab “Nggak mandi, nggak cucu.” Maksudnya, “Nggak mau mandi, nggak mau minum susu.” Jangan putus asa, jelaskan bahwa anak harus memilih. Bila ia tidak mau memilih, Anda yang memutuskan.
  6. Jangan emosi, kemudian menjerit. Bisa jadi, anak menunggu reaksi ini. Jeritan atau teriakan bisa menyenangkan si kecil karena usahanya untuk menarik perhatian berhasil. Lebih baik pegang tangan anak, tatap matanya dengan serius sambil berkata, “T i d a k         b o l e h!”
  7. Ajarkan sentuhan positif seperti membantu menggarukkan punggung bunda atau memijat tangan ayah yang pegal-pegal. Tunjukkan bahwa tangan bisa digunakan untuk bermacam aktivitas baik.
  8. Jangan berharap terlalu banyak selama proses pengubahan perilaku ini. Anak usia ini sedang susah payah belajar dengan melakukan sesuatu berulang-ulang dan mungkin juga lupa. Yang penting Anda konsisten dan jangan menyerah.
Alihkan Tangannya!
  1. Menyanyi lagu “Kepala – Pundak – Lutut – Kaki” (Head – Shoulder – Knees and Toes) begitu tangan si kecil mulai ingin menarik rambut Anda. Letakkan tangannya di atas kepalanya kemudian bernyanyilah.
  2. Menari, menggoyangkan tangan di atas kepala, begitu anak menunjukkan gelagat akan menarik rambut Anda atau rambut pengasuhnya
  3. Tepuk tangan, sambil berseru “Hore!” untuk mengalihkan tangannya dari kepala Anda saat ia siap menjambak.
Aktivitas Tangan
  1. Ting..Tung..Tuts Piano. Bunyinya yang nyaring saat ditekan membuat si kecil senang. Ia akan terus menekan tuts piano. Sekalian ajarkan dia menyanyi.
  2. Bermain boneka tangan bentuk manusia atau binatang. Ajak anak menggunakan tangan untuk mendongeng. Selain mengaktifkan tangan, latih  kemampuan bicara anak termasuk mengungkapkan perasaan.
  3. Membentuk play dough. Buat adonan dari tepung dan air. Ajak anak membuat aneka bentuk dari adonan ini. Mungkin ia belum bisa membentuk apapun selain meremas-remas. Bimbing ia membuat bentuk-bentuk sederhana sembari bercerita.
  4. Finger paint. Sediakan kertas kosong yang besar, hamparkan di carport atau halaman berumput dan cat untuk finger paint. Si kecil  suka kegiatan ini karena boleh kotor-kotor. Sediakan peralatan lain seperti sikat gigi bekas atau kuas untuk cat tembok. Jelaskan sebelumnya, ia tak boleh menjilat cat. Atau, saat tangannya penuh cat, ia tak boleh mengusap mata. Aktifkan tangan anak dengan membuat coretan.
sumber: http://www.ayahbunda.co.id/

Strategi Hadapi Balita Aktif

Diposting oleh elda utami di 02.07 0 komentar
Menyejajarkan langkah Anda dengan balita yang berenergi tinggi memang membuat kita orangtuanya kelelahan dan bertendensi menaikkan emosi. Namun mengekang kebebasan geraknya bukanlah jawaban. Temukan cara-cara positif untuk mengarahkan semangat hebatnya itu dan singkirkan apapun yang menyebabkan balita menjadi aktif berlebihan. Simak enam strategi berikut.
  1. Daftarkan ke kursus olahraga karena di usia inilah saat tepat untuk ia berlatih sepakbola atau memulai latihan karate, berenang atau latihan menari. Aktifitas gerak ini akan meningkatkan koordinasi motoriknya dan kemampuan balita untuk fokus dan konsentrasi. Biarkan ia memilih kegiatan yang disuka, namun pastikan les atau kursus itu tidak terlalu tertrukstur ketat-paling tidak 30 menit untuk bermain bebas dan 20 menit untuk menerima intruksi atau pelajaran.
  2. Belikan mainan baru. Anak Anda boleh cinta pada sepeda roda tiganya, namun sepeda itu terlalu kecil untuknya. Siap-siap untuk membelikannya sepeda roda dua dengan dua roda latihan (roda kecil) menempel di roda belakang. Biarkan juga dia bereksperimen dengan hula hoop.lempeng terbang, raket tenis kecil, pemukul kasti dan bola berbagai ukuran. Pertimbangkan pula untuk membelikannya tape atau CD player untuk memutar lagu-lagu favoritnya dan biarkan ia menari menggoyangkan badannya.
  3. Bermain bersamanya. Sempatkan diakhir pekan untuk pergi ke tempat-tempat di mana anak dapat beraktifitas bersama Ayah-Bundanya. baw alayang-layang untuk diterbangkan bersama atau sepeda untuk keliling taman bersama. Di halaman bersama atau sepeda untuk keliling taman bersama. Di halan rumah, bersama balita Anda bisa menyiram tanaman atau tiupkan gelembung sabun untuk dikejarnya. Bila cuaca tak emndukung dan terpaks diam di dalam rumah, adakan games yang membuatnya bergerak tanpa berlebihan.
  4. Matikan televisi. Anda pikir dengan menonton televisi akan membuat gerak aktif balita akan teredam? Justru sebaliknya. Film kartun aksi petualangan atau video games malah akan membuatnya terstimulasi berlebihan, sehingga dia sulit untuk disuruh duduk diam. Asosiasi Pedoatri Amerika (AAP) merekomendasikan maksimal total dua jam per hari anak boleh di depan layar-termasuk TV, video games dan komputer- dan hindari kegiatan itu sebelum tidur.
  5. Awasi makannya. Asupan gula bukan satu-satunya penyebab overaktif, namun beberapa riset menyatakan konsumsi permen, kue atau makanan dan minuman manis saat perut anak kosong menyebabkan ia terangsang untuk bergerak aktif. Penting juga untuk mengurangi konsumsi kafein, minuman kola dan bersoda, es teh manis dan cokelat. Balita sudah memilik energi natural dalam tubuhnya dan tak perlu dapat lebih dari zat kimia.
  6. Beri penghargaan pada perilaku baik. Memberlakukan pada ambang batas kelakuan anak yang bisa ditoleransi penting diterapkan pada usia ini. Bila balita selalu bergerak berlarian di lorong rak supermarket, buat ‘perjanjian’ dengannya: bila ia bisa menemukan barang yang dibutuhkan ibu, ia akan dapat hadiah boleh main perosotan sampai puas di area bermain. Jangan lupa selalu tepati janji Anda!
sumber: http://www.ayahbunda.co.id/
 

rumahku sekolahku... Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez